86NEWS.ID – JAKARTA – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Wibowo resmi memperkenalkan program dan orientasi pelayanan baru bernama Polantas KARIB (Kemitraan, Aktif, Responsif, Intuitif, dan Berintegritas). Program ini dihadirkan untuk memperkuat hubungan emotional serta meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian lalu lintas kepada masyarakat di seluruh Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Irjen Wibowo saat menjadi bintang tamu dalam program detikSore yang tayang di detikcom pada Rabu (29/7/2026). Dalam kesempatan itu, ia memaparkan visi besarnya mengenai transformasi kultural jajaran Polantas agar semakin dekat dan dicintai publik sesuai arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Irjen Wibowo menjelaskan Polantas KARIB berangkat dari impiannya untuk menghadirkan sosok polisi yang tidak kaku, melainkan hadir sebagai pelindung dan pengayom yang humanis bagi masyarakat.
“Kalau kita pakai istilah anak Gen Z sekarang ini, bestie. Polantas adalah bestie-nya masyarakat. Hubungan ini tentunya dilandasi oleh sebuah kepercayaan, bukan karena kewenangan atau kekuasaan,” kata Irjen Wibowo.
Ia menekankan bahwa kedekatan antara Polantas dan masyarakat tidak boleh dibangun atas dasar ketakutan terhadap penegakan hukum, melainkan rasa saling percaya dan kepedulian bersama terhadap keselamatan di jalan raya.
Lima Pilar Utama Polantas KARIB
Untuk mewujudkan polisi sebagai sahabat masyarakat, Kakorlantas memerinci lima pilar fundamental yang menjadi acuan bertindak bagi seluruh personel lalu lintas di lapangan. Masing-masing adalah:
Kemitraan: Membangun ruang kolaborasi yang luas dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), komunitas, serta elemen masyarakat dalam mengelola keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas).
Aktif: Mendorong personel untuk senantiasa hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat sebelum timbulnya potensi masalah atau kemacetan.
Responsif: Menuntut kesigapan petugas dalam merespons cepat setiap aduan, kemacetan, maupun kondisi darurat jalanan secara tepat dan adil.
Intuitif: Mengasah kepekaan dan kepedulian personel di lapangan agar tidak apatis terhadap kesulitan yang dialami pengguna jalan.
Berintegritas: Menjadikan kejujuran dan profesionalisme sebagai benteng utama dalam menjalankan tugas sentra pelayanan maupun penegakan hukum.
“Kemitraan. Kita harus bermitra dengan berbagai macam stakeholder terkait, termasuk melibatkan masyarakat dan komunitas-komunitas di dalamnya. Kemudian, kita harus berperan secara aktif,” ujar Irjen Wibowo.
Selain itu, Polantas juga dituntut untuk merespons cepat setiap permasalahan yang ada di masyarakat secara tepat dan adil.
“Kemudian, harus ada intuisi sense of crisis. Ada kepedulian dan tidak apatis terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul di masyarakat. Yang paling utama, kita harus memiliki integritas,” sambungnya.
Program Polantas KARIB kini bukan sekadar wacana di tingkat pusat, melainkan telah diimplementasikan secara serentak oleh jajaran Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda hingga Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres di seluruh wilayah Indonesia.
Di berbagai daerah, semangat KARIB diterjemahkan langsung dalam aksi nyata di lapangan. Mulai peningkatan kualitas pelayanan publik humanis di sentra SIM dan Samsat, sosialisasi keselamatan berlalu lintas ke pengemudi, sekolah dan komunitas, aksi tanggap darurat seperti membantu pengemudi kendaraan mogok di ruas tol, hingga edukasi persuasif bagi para pelanggar lalu lintas.
Dengan berjalannya program ini secara masif di seluruh Polda dan Polres se-Indonesia, Korlantas Polri optimistis tingkat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian akan terus meningkat, seiring terwujudnya kamseltibcarlantas yang kondusif di Tanah Air. (MeL)






