Rapat Kerja dengan Komisi III DPR RI, Kepala BNN ungkap Sekaarang Ini Jenis Narkoba Sudah Berubah Berbentuk Cairan

86NEWS.ID – JAKARTA – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Suyudi Ario Seto, mengungkap bahwa sekarang ini jenis narkotika sudah berubah. Narkotika saat ini sering ditemukan berbentuk cairan.

Suyudi mengungkap hal ini saat Rapat Kerja dengan Komisi III DPR RI di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6). Bahkan menurutnya, ganja pun saat ini sudah dibuat dalam bentuk cair.

Bacaan Lainnya

“Bapak/Ibu sekalian, perlu saya sampaikan bahwa perkembangan narkotika dunia, termasuk di Indonesia sekarang ini, narkotika jenis cair, Pak. Jadi sabu cair, metamfetamin, ganja bahkan cair juga, etomidate cair. Jadi semuanya cair,” kata Suyudi.

Pintu masuk peredaran narkotika jenis cair ini lewat rokok elektrik. BNN sempat mengusulkan pelarangan total penggunaan vape.

“Pintu masuknya salah satunya dan yang paling utama adalah melalui rokok elektrik atau vape. Nah ini yang kami sampaikan pada rapat sebelumnya, kami mengusulkan untuk pelarangan total dalam hal ini,” katanya Suyudi.

Dia mengatakan BNN berencana mengadakan alat uji cepat (rapid test) maupun tes urine khusus zat etomidate. Menurut dia, alat tersebut belum dimiliki oleh BNN.

“Kita juga dihadapkan pada munculnya tren zat seperti etomidate yang saat ini sedang marak atau mengalami peningkatan signifikan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, dukungan anggaran sangat dibutuhkan dan nantinya dimanfaatkan untuk pengadaan alat uji cepat (rapid test) maupun tes urine khusus zat etomidate,” ungkapnya.

BNN sangat membutuhkan alat deteksi zat etomidate. Ketiadaan alat tersebut menghambat pihaknya dalam melakukan penindakan.

“Alat deteksi ini sangat kami perlukan untuk penindakan di lapangan, sementara saat ini BNN belum memilikinya sama sekali. Sebagai kondisi saat ini, apabila terdapat temuan yang diduga etomidate, kami memang bisa membawanya ke Pusat Laboratorium Narkotika BNN. Namun pengujian tersebut hanya sebatas untuk mengidentifikasi kandungan zat pada barang bukti fisiknya saja,” katanya.

“Bukan untuk mendeteksi kandungan pada urine pengguna, yang di mana akan memakan waktu. Ketiadaan rapid test zat etomidate ini tentu akan menghambat kecepatan kami dalam menindak, memastikan status pengguna secara akurat, serta mengambil keputusan penyelamatan yang cepat di lapangan,” ujarnya. (Mel)

Pos terkait