86NEWS.ID – GARUT – Di balik deru mesin kendaraan yang melintas di jalanan Kabupaten Garut, Jawa Barat, ada ketenangan warga yang kerap terusik oleh suara memekakkan telinga.
Knalpot bising atau yang akrab disebut knalpot brong bukan lagi sekadar persoalan pelanggaran lalu lintas biasa.
Di tanah Pasundan ini, bunyi bising tersebut telah menjelma menjadi pemicu nyala api konflik, bahkan berujung pada aksi kekerasan brutal yang dilakukan oleh kelompok berandalan bermotor dari kalangan remaja sekolah.
Menyadari situasi kian meresahkan, aparat penegak hukum tidak tinggal diam. Mengambil langkah taktis yang menyentuh akar rumput.
Kepolisian Resor (Polres) Garut kini memilih turun langsung ke gelanggang pendidikan melalui program jemput bola.
Police Go To School: Menghadang Bahaya dari Gerbang Sekolah
Langkah tegas ini digagas langsung oleh Kepala Kepolisian Resor Garut, AKBP Niko N Adi Putra. Alih-alih hanya menunggu di jalan raya.
Jajaran Satlantas dan polsek-polsek jajaran kini diinstruksikan untuk mendatangi sekolah-sekolah menengah secara masif melalui program Police Go To School.
Tujuannya jelas: menyapa para siswa, memberikan penyuluhan hukum, sekaligus menyisir area parkir sekolah untuk menertibkan kendaraan siswa yang masih nekat menggunakan knalpot brong.
“Karena setiap kejadian itu (gangguan keamanan) dipicu karena knalpot ‘brong’, maka kita akan tertibkan knalpotnya,” tegas AKBP Niko N Adi Putra di Garut, dikutip Kamis 13 Agustus 2026.
Langkah preventif ini merupakan respons langsung atas tumpukan aduan masyarakat yang merasa terganggu.
Kepolisian mencatat bahwa berbagai insiden kekerasan jalanan dan gesekan sosial yang melibatkan pelajar kerap berawal dari sepele:
Teguran warga akibat suara bising yang memecah malam, yang kemudian dibalas dengan arogansi di atas aspal. Membangun Kesadaran Bersama Demi Garut yang Kondusif Di balik tindakan tegas penyitaan di sekolah-sekolah, kepolisian menyadari bahwa penegakan hukum semata tidak akan pernah cukup untuk meredam kenakalan remaja tanpa adanya keterlibatan aktif dari lingkungan terdekat mereka.
Peran orang tua, guru, dan elemen masyarakat menjadi kunci utama untuk membentengi generasi muda dari budaya berkendara yang urakan dan membahayakan keselamatan publik.
Kita butuh dukungan dari seluruh masyarakat untuk bisa membantu bersama kami dalam melaksanakan tugas,” pungkas Kapolres. Melalui gerakan humanis namun tegas ini, gerbang-gerbang sekolah di Garut kini disulap menjadi garis depan pertahanan moral. Diharapkan, deru knalpot bising yang kerap meresahkan perlahan berubah menjadi kesadaran tertib berlalu lintas, demi mengembalikan senyum dan kedamaian di ruang-ruang publik Kabupaten Garut. (DJn)






