86NEWS.ID – BANDUNG – Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Polisi Bersama Masyarakat, Pencegahan Ekstremisme pada Anak melalui Penguatan Keluarga dan Sekolah” di Aula Moeryono Mapolda Jabar, Kota Bandung, pada Kamis (29/10/2026). Acara ini dibuka secara resmi oleh Kapolda Jabar, Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H., sebagai respons terhadap dinamika ancaman radikalisme yang mulai menyasar generasi muda.
Kegiatan strategis ini dihadiri sekitar 100 peserta, meliputi jajaran pejabat utama Polda Jabar, perwakilan Densus 88 AT Polri, Dinas Pendidikan, Kanwil Kemenag, Diskominfo, serta para kepala sekolah, guru Bimbingan Konseling, komite sekolah, hingga pengurus OSIS dari berbagai jenjang pendidikan.
Dalam sambutannya, Kapolda Jabar menegaskan bahwa perlindungan anak dari paparan paham ekstremisme bukan semata tanggung jawab kepolisian, melainkan tugas bersama yang harus dimulai dari lingkungan terdekat: keluarga dan sekolah. Beliau menyoroti perkembangan teknologi informasi yang ibarat dua sisi mata pisau — memudahkan akses ilmu sekaligus membuka celah masuknya propaganda intoleransi, kebencian, dan ajakan kekerasan di ruang digital. Mengacu pada kasus nyata yang melibatkan pelajar, Kapolda mengingatkan pentingnya deteksi dini, pengawasan aktivitas dunia maya secara proporsional, serta membangun komunikasi terbuka antara anak, orang tua, dan pendidik.
Sebagai langkah konkret, Polda Jabar meluncurkan program Polisi Peduli Pendidikan, di mana personel kepolisian akan diterjunkan langsung sebagai pembina upacara di sekolah-sekolah setiap hari Senin. Program ini akan menjangkau 27 kabupaten/kota di Jawa Barat untuk memberikan edukasi berkelanjutan mengenai bahaya narkoba, perundungan, kenakalan remaja, serta wawasan kebangsaan. Langkah ini didukung kolaborasi lintas sektoral bersama Densus 88 AT, dinas terkait, pemanfaatan sarana keagamaan, hingga peluncuran media edukasi interaktif guna memperkokoh mental dan karakter anak.
Selain ancaman ekstremisme, Kapolda juga menyoroti berbagai kejahatan modern yang mengancam masa depan remaja, seperti penyalahgunaan obat keras ilegal, judi daring, pinjaman daring, hingga eksploitasi anak di ruang siber. Melalui pendekatan humanis, beliau mengajak para pelajar menerapkan tiga pilar utama: bijak bermedia sosial, berani melapor kepada orang dewasa tepercaya saat menghadapi tekanan, serta menjunjung tinggi toleransi dan berpikir kritis dalam menyikapi perbedaan.
FGD yang diisi pemaparan dari Satgaswil Densus 88 AT, Dinas Pendidikan, dan Ditres PPA & PPO Polda Jabar ini diharapkan melahirkan rekomendasi serta rencana tindak lanjut yang terukur. Dengan penguatan ketahanan keluarga, lingkungan sekolah yang aman, serta sinergi kokoh antara kepolisian, pemerintah, dan masyarakat, Polda Jabar optimis dapat melahirkan generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan tangguh menjaga keutuhan bangsa demi terwujudnya visi “Jabar Aman”. (DjN).






