86NEWS.ID – CIMAHI – Polres Cimahi mulai memetakan titik rawan kemacetan sekaligus menyiapkan strategi penguraian arus lalu lintas dalam pelaksanaan Operasi Ketupat Lodaya 2026. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi lonjakan kendaraan pada puncak arus mudik Lebaran.
Kapolres Cimahi, Niko N. Adiputra mengatakan, pihaknya menerjunkan total 103 personel dalam tim pengurai kemacetan yang tergabung dalam Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Cimahi. Dari jumlah tersebut, 20 personel difokuskan sebagai tim urai yang dilengkapi sekitar 10 unit kendaraan operasional.
“Tim ini kami bagi di dua wilayah utama, yakni di utara kawasan Lembang dan di barat di Posko Terpadu Tol Padalarang,” ucap Niko saat meninjau Pos Terpadu Tol Padalarang, Selasa, 17 Maret 2026.
Menariknya, dalam operasi tahun ini, Polres Cimahi juga menghadirkan konsep Motor Senyum. Kendaraan ini tidak hanya bertugas mengurai kemacetan, tetapi juga membawa logistik berupa takjil dan makanan ringan untuk dibagikan kepada pemudik yang terjebak antrean kendaraan.
“Harapannya, meskipun macet, masyarakat tetap bisa tersenyum. Tapi yang utama, kami pastikan arus tetap bergerak,” katanya.
Dalam pengendalian arus lalu lintas, Polres Cimahi mengandalkan teknologi digital dan sistem pemantauan terpadu. Salah satunya melalui aplikasi peta lalu lintas milik Jasa Marga yang terintegrasi dengan kondisi jalan tol secara real time.
Selain itu, ia memaparkan, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) melalui pemanfaatan jaringan CCTV yang tersebar di berbagai titik. Tercatat, sebanyak 103 kamera berada di wilayah Bandung Barat dan 59 kamera di Kota Cimahi.
“Kalau di peta digital terlihat merah, kami langsung cek ke CCTV. Dari situ tim urai kami arahkan ke lokasi untuk penanganan cepat,” jelasnya.
Polres Cimahi juga mengidentifikasi sedikitnya tiga titik rawan kemacetan (trouble spot), yakni kawasan Tagog Apu, Cimareme, dan Simpang Beatrix di Lembang.
Untuk kawasan Cimareme, penanganan difokuskan pada penambahan personel serta penguatan rekayasa lalu lintas melalui pemasangan marka jalan, water barrier, dan pembatas arus kendaraan.
Sementara di Tagog Apu dan Lembang, ia menjelaskan, skema yang diterapkan berupa contraflow dan one way situasional (CB). Rekayasa ini dilakukan secara fleksibel dengan menutup dan membuka jalur tertentu berdasarkan kondisi kepadatan di lapangan.
“Di Tagog Apu, arus kami alihkan melalui jalur alternatif seperti Pasar atau Polsek. Sementara di Lembang, penutupan dilakukan di titik Grand Hotel Panorama hingga Simpang Beatrix jika terjadi kepadatan,” paparnya.
Rekayasa lalu lintas ini dilakukan secara dinamis. Dalam kondisi normal, skema tersebut bisa diterapkan 3 hingga 4 kali dalam sehari, namun dalam kondisi padat dapat meningkat hingga 10 kali.
Langkah ini menunjukkan bahwa pengamanan arus mudik tidak lagi hanya mengandalkan pola statis, melainkan berbasis situasi lapangan dan teknologi pemantauan.
Dibeberkan Niko, meski berbagai strategi telah disiapkan, Polres Cimahi tetap mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan perjalanan, terutama saat kondisi lalu lintas padat. Tanpa disiplin pengguna jalan, skenario penguraian kemacetan berpotensi tidak berjalan optimal.
“Pada akhirnya, keberhasilan Operasi Ketupat Lodaya tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga kesadaran kolektif para pemudik dalam menjaga keselamatan selama perjalanan,” tukasnya. (Mel).






