Polisi Tetapkan Lima Tersangka Penyiraman Air Keras Persada Bhayangkara Sembiring

MEDAN – 86News – Polisi menetapkan 5 lima tersangka penyiraman air keras terhadap Persada Bhayangkara Sembiring yang merupakan pemred salah satu media lokal di Medan. Peristiwa itu diduga terkait berita judi.

Kelima pelaku adalah, dalangnya Sempurna Sembiring (41) alias SS, yang mengatur waktu dan tempat Heri Sanjaya Tarigan (36) alias HST keduanya warga Desa Namo Gajah Kecamatan Medan Tuntunggan.

Bacaan Lainnya

Kemudian, orang yang merekrut eksekutor berinisial IIB (39) warga Kelurahan Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan, dan dua orang eksekutor yaitu UA (50) warga Sumatera Selatan (Sumsel) berperan sebagai joki, serta NK (30) warga Jalan Datuk Kabu yang menyiram air keras ke wajah korban.

SS yang disebut menjadi otak dari aksi penyiraman terhadap Persada, merupakan pemilik usaha judi mesin permainan ketangkasan di Kecamatan Medan Tuntungan.

“Motifnya adalah memberikan efek jera kepada korban, karena pelaku merasa resah, pelaku merasa terancam karena bolak balik diberitakan,” kata Dirreskrimum Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan Atmaja, di Polrestabes Medan, Senin (2/8/2021).

Kasus ini terungkap setelah tim gabungan Ditreskrimum Polda Sumut dan Sat Reskrim Polrestabes Medan melakukan pemeriksaan mendalam mulai dari sejak kejadian penyiraman air keras pada, Minggu (25/7/2021) malam di Jalan Jamin Ginting Simpang Selayang Kecamatan Medan Tuntungan.

Tatan juga menyebut SS merasa diteror sehingga ingin memberi pelajaran kepada korban. Dia mengatakan hal itu diketahui setelah polisi memeriksa riwayat WhatsApp para pelaku.

“Kemudian merasa diteror seperti itu sehingga para pelaku berinisiatif untuk memberikan pelajaran kepada korban. Itu terfaktakan dari beberapa WA (WhatsApp) yang kita screnshoot baik kepada otak pelaku termasuk kepada tersangka HST,” ujar Tatan.

Sebelumnya, polisi menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus penyiraman air keras terhadap Persada Bhayangkara Sembiring. Persada merupakan pemimpin redaksi salah satu media lokal di Medan.

“Dijerat pasal 355 ayat 1 subs pasal 353 ayat 2 subs pasal 351 ayat 2 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara,” kata Dirreskrimum Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan Atmaja, di Polrestabes Medan, Senin (2/8).

Dilanjutkan Tatan, karena kesal terhadap korban tersangka Heri Sanjaya Tarigan mengatur pertemuan dengan korban untuk memberikan pelajaran. “Pada saat korban sudah sampai di tempat yang disepakati bersama, eksekutor melihat korban sudah berada di TKP,” ujarnya.

Setelah melintas di lokasi, Tatan mengutarakan, kedua tersangka lalu agak menjauh sekitar 200 meter dari lokasi keberadaan korban dan menuangkan cairan air keras dari botol minuman kaleng ke botol plastik air mineral.

“Dipindahkan untuk memudahkan cairan tersebut disiram mengenai korban,” tukasnya.

Sementara itu, Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Riko Sunarko mengatakan peristiwa itu terjadi di Simpang Selayang, Medan, pukul 21.37 WIB, Minggu (25/7/2021). Polisi juga mengungkap UA mendapat Rp 120 ribu, N mendapat Rp 120 ribu dan IIB mendapat Rp 60 ribu sebelum penyiraman air keras.

“Pukul 21.00 WIB, Persada menghubungi HST memberitahukan bahwa dirinya sudah di lokasi yaitu di depan RM Tesalonika, HST kemudian memberitahukan kepada UA dan N yang sedang berdampingan di kandang ayam. UA dan N kemudian menuju lokasi, memindahkan air keras dari botol kaca ke botol plastik yang sudah dipotong kemudian menyiramkan air keras kepada Persada,” terangnya.

Setelah itu, para tersangka bertemu lagi. SS disebut menyerahkan duit Rp 3 juta kepada UA dan N. “Sementara, sisanya Rp 10 juta akan diserahkan hari Selasa 27 Juli 2021. SS menyuruh untuk menghapus jejak komunikasi,” ucapnya.

Ditempat terpisah, walau dibalik jeruji besi Sempurna Sembiring (SS) atau Big Boss tembak ikan logo “SS” dan Dadu Putar masih tetap beroperasi. Otak pelaku penyiraman air keras kepada wartawan itu, kini di tahan di sel Polretabes Medan.

Sempurna Sembiring yang juga big boss pemilik mesin tembak ikan dengan logo “SS” masih saja bisa menjalankan bisnis haramnya, kendati berada dibalik jeruji besi.

Diantara bisnis haram tersebut ialah “lapak dadu” di Kelurahan Namo Gajah dan “tembak ikan” di belasan titik yang tersebar di Kecamatan Medan Tuntungan, diantara nya sebanyak 4 titik mesin tembak ikan berada di Kelurahan Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan.

Entah bagaimana Sempurna Sembiring bisa tetap menjalankan bisnis haramnya ini dari balik jeruji besi. Namum pantauan awak media di lapangan khususnya di kelurahan Ladang Bambu dan Kelurahan Namo Gajah tidak ada yang terhenti kegiatan bisnisnya dan semua berjalan seperti biasa

Pos terkait